aku sedang berusaha keras melewati hari hari terberatku tanpa ibu.
menahan rindu yang semakin menjadi, karena mengingat ibu sungguh menyesakkan.
aku harus tersadar bahwa kenyataannya ibu benar benar sudah tidak ada di dunia ini.
masih teringat jelas detik detik dimana kepergian ibu,
mulutku membisikkan kalimat " laa ilaaha illallaahu muhammadurrasulullah " di telingamu, membacakan surat yasin di sebelah ibu berbaring di ruang ICU.
dengan tangis, pedih dan antara ikhlas juga takut kehilangan ibu .
dadaku semakin sesak, suaraku parau bergetar, kakiku lemas tak berdaya, jantungku terasa berhenti, duniaku runtuh.
saat ku ketahui bahwa ibu benar benar tidak ada.
ya Allah.
saatku genggam tangan ibu, ibu tidak merespon lagi.
kulihat wajah ibu menandakan kehampaan dan matamu tertutup lelah.
tangisku pecah, kakiku terasa tak menapak.
melihat ke wajah ibu, ibu begitu tenang layaknya sedang tertidur.
aku tau, ibu sudah sangat berjuang selama 3 hari di rumah sakit.
aku sangat menyaksikan ketika ibu merasa sangat kesakitan ditusuk oleh jarum dari tangan sampai kaki.
ibu pasti sangat lelah.
tapi Allah membebaskan rasa sakit ibu sekarang.
Allah memelukmu, memanggilmu untuk kembali.
karena Allah sudah terlalu rindu pada ibu.
aku mencintai ibu, tapi cinta Allah melebihi cinta aku pada ibu.
aku tak pernah berdaya saat Allah memintamu untuk kembali pada-Nya.
aku tidak siap dan tidak pernah siap tapi ibu milik-Nya.
ibu titipan dari-Nya yang harus direlakan kapan saja saat Allah meminta ibu untuk " pulang "
terima kasih ibu atas segala cinta, teladan dan kebahagiaan yang selalu ibu curahkan kepada ku setiap detiknya.
hello . . .
Sabtu, 01 April 2017
Selasa, 29 Maret 2016
Menanti Kepergian
Hari dibulan tiga.
Jiwaku sepi.
Dadaku bergetar.
Tanganku kelu ketika harus menanti kepergian.
Kepergian tak mengartikan perpisahan.
Kepergian hanya memisahkan tempat bukan hati.
Raga kita memang tak lagi terpaut, namun hati
tetap tertaut.
Tenanglah dan nikmati skenario-Nya.
Aku akan selalu rindu.
Rabu, 08 April 2015
pertemuan
pada akhirnya, kita dipertemukan.
pertemuan di sebuah persimpangan.
pertemuan yang merentaskan sebuah kisah.
pertemuan yang memberikan rasa berharap lebih.
pertemuan yang membuat aku merasa terusik.
sampai pada saat waktu aku menyadari,
ada kalanya jaga jarak kepadamu adalah keamanan.
karena tidak semua pertemuan itu menyatukan.
Rabu, 04 Maret 2015
Langkahnya menjauh
Kemarin, 4 Maret 2015.
Hal yang selalu aku takuti terjadi (lagi).
Dadaku sesak, kerongkonganku seakan tersumbat hingga sulit berbicara.
Aku hanya bisa terdiam ketika mendengar langkah kakinya sudah pergi jauh.
Yang kulihat keadaan ayahku yang jauh lebih terpukul dariku.
Ayahku seakan belum bisa mengikhlaskan jika ' dia ' melangkah jauh dari kami semua.
Aku berusaha sangat tegar di depan ayahku.
Sungguh sulit menahan semua gejolak yang kurasa.
Aku tau, langkahnya menjauh karena ' dia ' akan berada di tempat terbaik.
Tempat terbaik yang sudah dipersiapkan oleh penulis takdir.
Sungguh pelajaran yang berharga,
Usia tidak ada yang bisa prediksi.
Kita yang masih diberikan usia harus bersyukur,
Lakukan terbaik yang bisa kita lakukan.
Selamat jalan, pakde man (kakak nomor 3 dari ayahku)
Kami sangat menyayangimu
Senin, 02 Maret 2015
mimpi semu
aku ini seorang pemimpi.
pemimpi yang sedang ditawarkan mimpi.
aku ditawarkan cahaya ditaburan awan kelabu.
aku terbuai dalam cahaya yang seakan semua akan menjadi nyata.
namun, ternyata semua mimpi itu semu.
sekarang aku sendiri disini menikmati asa kelam,
dan fantasi metafora ku dalam semunya mimpi.
Jumat, 23 Januari 2015
perpisahan itu pasti
perpisahan suatu yang pasti.
kalau tidak sekarang, besok akan terjadi.
ini hanya persoalan waktu.
tak ada apapun yang bisa menghentikan, memajukan bahkan mengulang.
waktu berjalan bersama kita.
kita hanya bisa menunda sesaat.
namun perjumpaan dan perpisahan seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
itu pasti, begitulah fragmen kehidupan.
Senin, 05 Januari 2015
perpisahan
aku merutuki perpisahan, aku menyesali perjumpaan kita.
aku menyesali kenangan, cerita dan memori kita.
semuanya menyiksaku dan perlahan membunuhku.
kini aku hanya bisa melebur dalam perpisahan.
perpisahan yang tak bisa ku hindari.
perpisahan yang sulit diterima namun itu suatu keharusan.
keharusan yang harus dihadapi, direlakan dan diikhlaskan.
aku menyesali kenangan, cerita dan memori kita.
semuanya menyiksaku dan perlahan membunuhku.
kini aku hanya bisa melebur dalam perpisahan.
perpisahan yang tak bisa ku hindari.
perpisahan yang sulit diterima namun itu suatu keharusan.
keharusan yang harus dihadapi, direlakan dan diikhlaskan.
Langganan:
Postingan (Atom)

