aku sedang berusaha keras melewati hari hari terberatku tanpa ibu.
menahan rindu yang semakin menjadi, karena mengingat ibu sungguh menyesakkan.
aku harus tersadar bahwa kenyataannya ibu benar benar sudah tidak ada di dunia ini.
masih teringat jelas detik detik dimana kepergian ibu,
mulutku membisikkan kalimat " laa ilaaha illallaahu muhammadurrasulullah " di telingamu, membacakan surat yasin di sebelah ibu berbaring di ruang ICU.
dengan tangis, pedih dan antara ikhlas juga takut kehilangan ibu .
dadaku semakin sesak, suaraku parau bergetar, kakiku lemas tak berdaya, jantungku terasa berhenti, duniaku runtuh.
saat ku ketahui bahwa ibu benar benar tidak ada.
ya Allah.
saatku genggam tangan ibu, ibu tidak merespon lagi.
kulihat wajah ibu menandakan kehampaan dan matamu tertutup lelah.
tangisku pecah, kakiku terasa tak menapak.
melihat ke wajah ibu, ibu begitu tenang layaknya sedang tertidur.
aku tau, ibu sudah sangat berjuang selama 3 hari di rumah sakit.
aku sangat menyaksikan ketika ibu merasa sangat kesakitan ditusuk oleh jarum dari tangan sampai kaki.
ibu pasti sangat lelah.
tapi Allah membebaskan rasa sakit ibu sekarang.
Allah memelukmu, memanggilmu untuk kembali.
karena Allah sudah terlalu rindu pada ibu.
aku mencintai ibu, tapi cinta Allah melebihi cinta aku pada ibu.
aku tak pernah berdaya saat Allah memintamu untuk kembali pada-Nya.
aku tidak siap dan tidak pernah siap tapi ibu milik-Nya.
ibu titipan dari-Nya yang harus direlakan kapan saja saat Allah meminta ibu untuk " pulang "
terima kasih ibu atas segala cinta, teladan dan kebahagiaan yang selalu ibu curahkan kepada ku setiap detiknya.
