Kemarin, 4 Maret 2015.
Hal yang selalu aku takuti terjadi (lagi).
Dadaku sesak, kerongkonganku seakan tersumbat hingga sulit berbicara.
Aku hanya bisa terdiam ketika mendengar langkah kakinya sudah pergi jauh.
Yang kulihat keadaan ayahku yang jauh lebih terpukul dariku.
Ayahku seakan belum bisa mengikhlaskan jika ' dia ' melangkah jauh dari kami semua.
Aku berusaha sangat tegar di depan ayahku.
Sungguh sulit menahan semua gejolak yang kurasa.
Aku tau, langkahnya menjauh karena ' dia ' akan berada di tempat terbaik.
Tempat terbaik yang sudah dipersiapkan oleh penulis takdir.
Sungguh pelajaran yang berharga,
Usia tidak ada yang bisa prediksi.
Kita yang masih diberikan usia harus bersyukur,
Lakukan terbaik yang bisa kita lakukan.
Selamat jalan, pakde man (kakak nomor 3 dari ayahku)
Kami sangat menyayangimu