Waktu itu ga berasa ya, kayanya baru kemarin tiap minggu 17th birthday party, sekarang datengnya ke wedding party. Waktu cepet juga ya, beberapa temen udah pada nikah aja.
Salut banget sama keputusannya untuk nikah muda, menurut gw tu hal ga mudah, dan mungkin mereka udah menemukan yang menurut mereka tepat dan terbaik untuk mereka. Kadang terharu kalau tau temen nikah, seneng banget akhirnya mereka menemukan sosok pasangan yang mungkin mereka harapkan. Kelihatannya lebay, tapi emang tu yang gw rasain (seneng, terharu). Semoga temen-temen yang udah pada nikah menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah. amin ya rabb.
Disini gw akan masukin artikel tentang dampak positif dan negatif menikah muda.
PERNIKAHAN bukan sekadar permasalahan menyatukan dua
pribadi ke dalam satu ikatan. Lebih dari itu, pernikahan merupakan
sebuah keputusan besar menyangkut masa depan yang akan dan harus
dihadapi oleh pemilihnya. Lantas, pertimbangan apa saja yang kemudian
harus dilakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah?
Banyak
pasangan muda memutuskan untuk menikah dengan pertimbangan menghindari
perbuatan dosa. Dengan alasan tersebut akhirnya menikah muda menjadi
suatu fenomena yang melanda kaum remaja saat ini. Kendati hal itu baik
dilakukan, namun ternyata ada pula nilai negatifnya.
Mengenai hal
itu, psikolog dari Jagadnita Consulting, Dra Clara Istiwidarum K, MA,
CPBC, memaparkan cara pandangnya. Dimulai dari beberapa POIN POSITIF
menikah muda, yaitu:
Usia dengan anak tak terpaut jauh
Ketika
sepasang kekasih memutuskan menikah muda, maka ketika memiliki anak,
usia mereka tidak akan berbeda jauh dengan usia anak. Kondisi yang
demikian membuat Anda dapat dekat dengan anak, sehingga tidak kaget
generasi.
Usia produktif lebih panjang
Kalau
kedua pasangan menikah muda di usia dewasa awal (21-40 tahun), berarti
dari mulai tahap perkembangan dewasa awal melangkah ke tahap
perkembangan baru menjadi pasutri memiliki waktu yang lebih panjang.
Perkembangan fisiologis dan biologisnya pun masih seimbang, sehingga
masih bisa sejalan dan membuat hubungan lebih langgeng.
Belajar bersama
Kedua
pasangan yang menikah di usia muda masih sama-sama dalam proses belajar
banyak hal. Salah satu yang paling utama ialah mencoba belajar dengan
berbagai cara menjadi seorang ibu dan ayah.
Dapat sejalan dengan anak
Saat
menjadi orangtua di usia yang cenderung muda, ketika memiliki anak
dapat memiliki cara pikir yang tidak terlalu beda, jadi memberi
keuntungan untuk si anak. Sebab perbedaannya tidak terlalu jauh membuat
pandangan mereka tidak terlalu terlihat.
Seluruh poin di atas,
akan dapat terjadi manakala kedua pasangan sama-sama matang. Artinya
mental benar-benar perlu dipersiapkan dan dipertimbangkan secara matang.
Sementara itu, POIN NEGATIF yang dapat dirasakan mereka yang memutuskan menikah muda, antara lain:
Faktor usia bukan penentu
Kematangan
tidak ditentukan oleh faktor usia. Meskipun kedua pasangan yang
memutuskan menikah telah masuk usia dewasa awal, tapi tahap
perkembangannya belum sampai ke tahap itu. Maka yang terjadi ialah
timbulnya cara berpikir yang beda. Semisal bagaimana membagi waktu
antara keluarga dan pertemanan.
Saat pasangan yang tahap
perkembangan emosionalnya belum matang, maka dia akan berusaha untuk
selalu berada di dekat teman-temannya. Sebab dia belum mau meninggalkan
fase bersenang-senang. Jadi, dia belum bisa berkomitmen penuh untuk
menjadi seorang ayah atau ibu. Maka tak heran bila hal ini akan memicu
konflik, sebab ketika seseorang menjalankan peran dan tugasnya akan
berpengaruh terhadap hubungan mereka.
Perceraian
Ketika
telah diketahui adanya tahap perkembangan emosional yang belum matang,
saat kondisi tersebut berlangsung terus maka kemungkinan kedua belah
pihak akan menyerah. Perceraian pun menjadi satu pilihan yang menarik.
Persiapan yang matang
Selain
faktor kematangan, persiapan pun perlu diperhatikan. Artinya harus siap
dan dipertimbangkan matang mengenai langkah yang akan ditempuh. Kalau
hanya karena alasan untuk menghindari perbuatan dosa, maka merupakan
langkah yang paling dangkal.
Karena lebih dari itu, pernikahan
adalah sebuah ikatan suci di mana dua orang yang memutuskan terikat
dalam sebuah pernikahan bertanggung jawab untuk saling membina sehingga
akhirnya tercipta sebuah keluarga harmonis sesuai dengan harapan.
Dukungan keluarga
Sebuah pernikahan tak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari keluarga. Untuk itu, Anda pun harus mengantongi restu keluarga.
Sebab
pernikahan adalah suatu ikatan yang tak terbatas waktu, jadi dukungan
orangtua dan keluarga sangat diperlukan di sini agar tidak akan terjadi
kondisi menyerah di tengah jalan.
sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2008/10/10/29/152621/redirect
Tidak ada komentar:
Posting Komentar