Setelah berlibur ke yogyakarta.
Saya dan teman-teman melewati kota semarang dan menyempatkan diri untuk mengunjungi lawang sewu.
Tepatnya pada malam jum'at sekitar pukul setengah 9 malam sepertinya.
Lawang sewu, gedung tua berumur lebih dari satu abad tersebut terkenal dengan kisah-kisah mistis dan suasana horornya.
![]() |
| kiri-kanan (rafli, rianti, aji, lia, fatur, putri, rini 'saya', anis, heni) |
Bangunan megah dengan seribu lebih daun pintu dan ratusan pintu dengan berbagai kisah mistis yang melatarinya adalah bekas kantor pusat Nederlands-Indische
Spoorweg Maatschappij atau NIS, jawatan kereta api Belanda yang beroperasi di
Semarang. Dirancang oleh Prof. Jacob F.
Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam
pada tahun 1903, pembangunan gedung ini dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada
01 Juli 1907. Gedung ini pun menjadi saksi bisu perjalanan
perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya. Bila dimasa penjajahan Belanda gedung ini
difungsikan sebagai kantor pusat jawatan kereta api, maka ketika Jepang
menduduki Republik ini di tahun 1940-an gedung ini diperuntukkan sebagai markas
Kempetai, Polisi Militer Jepang yang terkenal sadis dan kejam, serta Kidobutai, tentara kerajaan Jepang. Gedung ini pun tercatat sebagai lokasi
pertempuran hebat selama 5 hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), BKR,
AMRI dan beberapa organisasi kepemudaan lainnya dengan Kempetai dan Kidobutai
yang dimulai pada 15
Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat
kepada Sekutu. Setelah kemerdekaan gedung ini dipakai
sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia, lalu Kantor Badan
Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementerian
Perhubungan. Saat ini Lawang Sewu sedang
direnovasi dan direvitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT KAI. Beberapa ruangan bahkan telah difungsikan sebagai ruang peraga
museum kereta api.
Setelah membayar tiket masuk
sebesar Rp90.000,00 untuk 9 orang dewasa plus Rp30.000,00 untuk tour guide, saya pun memulai berkeliling
di gedung yang sarat sejarah ini. Namun saya pribadi merasakan suasana yang berbeda. Menyeramkan.
Mungkin itulah kata – kata yang tepat mewakili apa yang saya rasakan malam itu. Secara umum terdapat 4
gedung di kawasan Lawang Sewu ini, yang pertama adalah gedung A yang merupakan
gedung yang dapat anda lihat dari jalan.
Menurut tour guide yang
mendampingi kami, gedung ini masih tertutup untuk umum karena masih dilakukan
renovasi. Tampilan luarnya sudah cukup
baik dan terawat.
Lawatan kami di Lawang Sewu
pun diawali dengan mengunjungi toilet jadul peninggalan kolonial. Secara umum toilet ini sudah selesai
direnovasi dan tampilannya sudah lebih rapi serta bersahabat. Terdapat 4 washtafel kuno segi empat
berukuran besar di kiri dan kanan sisi dinding toilet. Teman – teman saya menyempatkan untuk mencuci
tangan dan membasuh wajah mereka di sini.
Selain washtafel, di toilet ini juga anda akan mendapati urinoir jadul
terbuat dari keramik dengan ukuran besar dan tinggi bila dibandingkan dengan
urinoir jaman sekarang ini. Sekali lagi,
walaupun telah direnovasi sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih layak dan
bersahabat, namun kesan seram masih lekat di toilet ini.
Sang pemandu pun mengatakan
kepada saya dan teman-teman kalau di bawah gedung ini terdapat terowongan yang
awalnya berfungsi untuk membuat ruangan yang berada di atasnya menjadi lebih
sejuk yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara di kala pendudukan
Jepang. Teman saya kemudian ingat kalau
terowongan atau ruangan bawah tanah itu pernah digunakan oleh salah satu reality show televisi swasta untuk
lokasi uji nyali. Setelah puas melihat –
lihat di lantai 1, saya dan rombongan pun diajak untuk melihat ruangan yang
berada di lantai 2. Namun sebelum
menaiki tangga menuju ke lantai 2, Sang Pemandu mengajak kami untuk melihat
ruang atau celah sempit ke terowongan atau ruang bawah tanah yang sebelumnya
diceritakan. Celah sempit tersebut
berada di bawah tangga dan tidak begitu mencolok keberadaannya. Tour Guide kami menawarkan apabila ingin
merasakan sensasi uji nyali, maka kami boleh turun ke dalam terowongan atau
ruangan bawah tanah dari pintu yang sudah disediakan di bagian belakang dari
gedung ini. Ehm, saya langsung menolak.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar