Sabtu, 25 Mei 2013

Lawang Sewu

Setelah berlibur ke yogyakarta.
Saya dan teman-teman melewati kota semarang dan menyempatkan diri untuk mengunjungi lawang sewu.
Tepatnya pada malam jum'at sekitar pukul setengah 9 malam sepertinya.
Lawang sewu, gedung tua berumur lebih dari satu abad tersebut terkenal dengan kisah-kisah mistis dan suasana horornya.


kiri-kanan (rafli, rianti, aji, lia, fatur, putri, rini 'saya',  anis, heni)

Bangunan megah dengan seribu lebih daun pintu dan ratusan pintu dengan berbagai kisah mistis yang melatarinya adalah bekas kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, jawatan kereta api Belanda yang beroperasi di Semarang.  Dirancang oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam pada tahun 1903, pembangunan gedung ini dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada 01 Juli 1907.   Gedung ini pun menjadi saksi bisu perjalanan perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya.  Bila dimasa penjajahan Belanda gedung ini difungsikan sebagai kantor pusat jawatan kereta api, maka ketika Jepang menduduki Republik ini di tahun 1940-an gedung ini diperuntukkan sebagai markas Kempetai, Polisi Militer Jepang yang terkenal sadis dan kejam,  serta Kidobutai, tentara kerajaan Jepang.  Gedung ini pun tercatat sebagai lokasi pertempuran hebat selama 5 hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), BKR, AMRI dan beberapa organisasi kepemudaan lainnya dengan Kempetai dan Kidobutai yang dimulai pada 15 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.   Setelah kemerdekaan gedung ini dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia, lalu Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan.  Saat ini Lawang Sewu sedang direnovasi dan direvitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT KAI.  Beberapa ruangan  bahkan telah difungsikan sebagai ruang peraga museum kereta api.

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp90.000,00 untuk 9 orang dewasa plus Rp30.000,00 untuk tour guide, saya pun memulai berkeliling di gedung yang sarat sejarah ini. Namun saya pribadi merasakan suasana yang berbeda.  Menyeramkan.  Mungkin itulah kata – kata yang tepat mewakili apa yang saya rasakan malam itu.  Secara umum terdapat 4 gedung di kawasan Lawang Sewu ini, yang pertama adalah gedung A yang merupakan gedung yang dapat anda lihat dari jalan.  Menurut tour guide yang mendampingi kami, gedung ini masih tertutup untuk umum karena masih dilakukan renovasi.  Tampilan luarnya sudah cukup baik dan terawat.  
Lawatan kami di Lawang Sewu pun diawali dengan mengunjungi toilet jadul peninggalan kolonial.  Secara umum toilet ini sudah selesai direnovasi dan tampilannya sudah lebih rapi serta bersahabat.  Terdapat 4 washtafel kuno segi empat berukuran besar di kiri dan kanan sisi dinding toilet.  Teman – teman saya menyempatkan untuk mencuci tangan dan membasuh wajah mereka di sini.   Selain washtafel, di toilet ini juga anda akan mendapati urinoir jadul terbuat dari keramik dengan ukuran besar dan tinggi bila dibandingkan dengan urinoir jaman sekarang ini.  Sekali lagi, walaupun telah direnovasi sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih layak dan bersahabat, namun kesan seram masih lekat di toilet ini.
   
Sang pemandu pun mengatakan kepada saya dan teman-teman kalau di bawah gedung ini terdapat terowongan yang awalnya berfungsi untuk membuat ruangan yang berada di atasnya menjadi lebih sejuk yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara di kala pendudukan Jepang.  Teman saya kemudian ingat kalau terowongan atau ruangan bawah tanah itu pernah digunakan oleh salah satu reality show televisi swasta untuk lokasi uji nyali.  Setelah puas melihat – lihat di lantai 1, saya dan rombongan pun diajak untuk melihat ruangan yang berada di lantai 2.  Namun sebelum menaiki tangga menuju ke lantai 2, Sang Pemandu mengajak kami untuk melihat ruang atau celah sempit ke terowongan atau ruang bawah tanah yang sebelumnya diceritakan.  Celah sempit tersebut berada di bawah tangga dan tidak begitu mencolok keberadaannya. Tour Guide kami menawarkan apabila ingin merasakan sensasi uji nyali, maka kami boleh turun ke dalam terowongan atau ruangan bawah tanah dari pintu yang sudah disediakan di bagian belakang dari gedung ini.  Ehm, saya langsung menolak.
Kunjungan saya dan teman-teman diakhiri dengan foto di bawah pohon mangga yang sangat besar dan foto di kereta api.

                               atas kiri-kanan (lia angelia, putri destien ayu sekarini, aji setiawan, rianti prasyifi).                                  bawah kiri-kanan (heni purnama sari, rafli lesmana, rini yuvita ' saya ', anissa r a, fatur)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar